Kadang gue nggak habis pikir sama beberapa orang yang nggak bisa menghargai sesuatu. Mungkin tiap pelajaran budi pekerti, orang-orang ini bolos ke kantin. Makanya cuma bisa nyela usaha orang dalam membuat sesuatu. Nggak bisa menghargai. Padahal, mereka belum tentu bisa melakukan hal yang sama. Dan gue yakin, kerjaan mereka paling cuma nonton sinetron sambil makan kuaci.
Pede adalah salah satu cara menghargai karya kalian sendiri. Makanya setiap berkarya, gue pasti pede. Dan nggak jarang, usaha gue ini nggak dihargai. Oleh orang-orang yang kerjaannya nonton sinetron sambil makan kuaci tadi. Entah males mencari tau atau nggak punya referensi.
Padahal isinya beda. Serba salah.
Dibilang niru, plagiat, nggak kreatif, dan lainnya. Emang sih, mereka yang "mempopulerkan". Bukan berarti kita nggak boleh melakukan hal yang sama, kan? Contohnya gue makan nasi. Bukan berarti lu nggak boleh makan nasi juga, kan? Gue makan nasi pake tangan, lu juga makan nasi pake tangan. Gue makan nasi pake ayam, lu juga makan nasi pake ayam. Oh, nggak kreatif? Yang kreatif gimana? Makan nasi sambil main gitar? Itu bukan kreatif, tapi kurang kerjaan.
Menurut gue nggak ada yang original di dunia ini. Semuanya itu cuma inovasi dari hal yang udah ada. Bayangin deh, dari sekian banyaknya manusia di bumi, masa nggak ada yang sepemikiran dengan kita? Banyak. Banget. Yang membedakan menurut gue cuma bentuk penyampaiannya.
Gue pernah liat salah satu undangan untuk datang ke event Inosai (Inori Bunkasai) yang ditulis oleh Nur Azizah. Di belakang kertasnya ditulis "Jangan dibuang, hargai yang buat." Eh, malah sama temen gue dibuang
Ini males baca atau gara-gara kebanyakan makan kuaci?
Kreativitas seseorang itu nggak harus original. Yang penting pengembangan dan cara penyampaiannya berbeda. Justru inovasi itu malah bisa bikin yang baru lebih baik dari yang sebelumnya, yang original. Tapi, masih banyak orang yang belum paham. Ketimbang menghargai, mereka lebih memilih untuk mengomentari.
Iya, mereka nggak harus bisa melakukan hal yang sama buat mengomentari. Bebas. Mereka punya hak. Tapi, daripada mengomentari aja tanpa berbuat apa-apa, kenapa nggak belajar buat menghargai? Lebih baik daripada nonton sinetron sambil makan kuaci. Karena menghargai orang lain itu sama artinya dengan menghargai diri sendiri. Berhenti mengomentari, belajar menghargai.
Gue pernah liat salah satu undangan untuk datang ke event Inosai (Inori Bunkasai) yang ditulis oleh Nur Azizah. Di belakang kertasnya ditulis "Jangan dibuang, hargai yang buat." Eh, malah sama temen gue dibuang
Ini males baca atau gara-gara kebanyakan makan kuaci?
Kreativitas seseorang itu nggak harus original. Yang penting pengembangan dan cara penyampaiannya berbeda. Justru inovasi itu malah bisa bikin yang baru lebih baik dari yang sebelumnya, yang original. Tapi, masih banyak orang yang belum paham. Ketimbang menghargai, mereka lebih memilih untuk mengomentari.
Iya, mereka nggak harus bisa melakukan hal yang sama buat mengomentari. Bebas. Mereka punya hak. Tapi, daripada mengomentari aja tanpa berbuat apa-apa, kenapa nggak belajar buat menghargai? Lebih baik daripada nonton sinetron sambil makan kuaci. Karena menghargai orang lain itu sama artinya dengan menghargai diri sendiri. Berhenti mengomentari, belajar menghargai.



